Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo menegaskan bahwa penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak boleh hanya menyasar pelaku lapangan, melainkan harus menyentuh aktor intelektual dan tanggung jawab korporasi. Dalam pengarahan kepada 322 personel satgas di Jakarta, ia menekankan pentingnya pergeseran strategi dari pemadaman reaktif menuju pendekatan prediktif yang berbasis data, teknologi, dan audit manajemen. Personel yang ditugaskan ke wilayah rawan seperti Sumatera dan Kalimantan diminta untuk melakukan evaluasi mendalam terhadap kebijakan serta kondisi lapangan. Selain itu, Dedi mendorong kolaborasi lintas sektoral antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat untuk memperbaiki tata kelola air serta restorasi gambut. Hingga awal September 2026, tercatat lebih dari 113 ribu titik panas dengan luas lahan terbakar mencapai 202 ribu hektare, yang menuntut respons terintegrasi dan berbasis bukti untuk mencegah meluasnya bencana.
Source : Detik
Photo : Detik


